Pernah ngga sih lagi belajar sesuatu, terus tiba-tiba kepikiran, “Kayaknya gwej emang gbl*k deh di bagian ini”.
Saya pernah.
Dan jujur aja, pikiran kayak gini tuh nyebelin.
Apalagi kalau kita melihat orang lain belajar hal yang sama tapi kelihatannya gampang banget. Dia baca dokumentasi sekali, ngerti. Nonton video 20 menit, ngerti. Dikasih contoh sedikit, langsung bisa utak-atik sendiri.
Lah, saya?
Baru beberapa paragraf udah buka tab baru buat nyari arti istilah yang dipakai di paragraf sebelumnya.
Belum selesai baca satu artikel, tab Chrome udah 23.
Anjir. 🙂
Akhirnya muncul kesimpulan paling gampang:
Oh, berarti gwej memang gbl**kk
Tapi belakangan saya mulai sadar kalau mungkin kesimpulan itu terlalu cepat.
Mungkin masalahnya bukan karena saya bodoh.
Mungkin saya cuma masuk dari pintu yang salah.
Bikin Espresso Tanpa Pernah Belajar Dial-In

Bayangin kamu baru beli mesin espresso.
- ✅ Mesinnya bagus.
- ✅ Grinder ada.
- ✅ Beans ada.
- ✅ Portafilter mengkilap.
- ✅ Tamper stainless steel yang beratnya cukup buat dijadiin alat bela diri juga ada.
Pokoknya equipment lengkap.
Terus kamu lihat orang bikin espresso di YouTube.
- 18 gram kopi masuk => 36 gram espresso keluar.
- Sekitar 25–30 detik.
Kelihatannya gampang.
Akhirnya kamu coba.
Dan hasilnya…
Anjayyy asem doang 🙃
Shot kedua pahit.
Shot ketiga keluarnya cuma 15 detik.
Shot keempat malah mesinnya kayak lagi kencing.
Lalu kamu mulai berpikir,
Kayaknya gwejjj emang ngga ada bakat bikin kopi.
Padahal masalahnya belum tentu di kamu.
- Mungkin grind size-nya terlalu kasar?
- Mungkin distribusinya berantakan?
- Mungkin beans-nya masih terlalu fresh?
- Mungkin temperatur kurang cocok?
- Mungkin dose-nya berubah-ubah?
- Atau mungkin dari awal kamu bahkan belum tahu apa itu dial-in espresso.
Nah, belajar sesuatu menurut saya kurang lebih kayak gitu.
Kita sering langsung mengejar hasil akhir tanpa memahami variabel kecil yang bikin hasil tersebut bisa terjadi.
- Kita lihat orang bisa coding.
- Kita langsung belajar framework.
- Kita lihat orang jago cybersecurity.
- Kita langsung buka materi exploit development.
- Kita lihat orang ngerti investasi. Langsung buka chart, pasang indikator tujuh biji, gambar garis sana-sini.
Padahal fondasinya belum tentu ada.
Lalu ketika semuanya terasa membingungkan, kita menyalahkan otaknya.
Padahal…
Grind size-nya aja belum bener, breeee 🤣🤣🤣
Sebuah tutorial tentang React mungkin bikin kita menganggap diri kita sudah ngerti JavaScript.
Materi tentang buffer overflow mungkin menganggap kita sudah ngerti memory, register, stack, sedikit assembly, dan bagaimana program sebenarnya berjalan.
Dokumentasi Kubernetes mungkin bicara soal container, networking, service discovery, YAML, DNS, dan entah makhluk apalagi…
…seolah semua itu pengetahuan umum seperti cara masak indomi.
Kalau satu fondasi hilang, materi berikutnya mulai terasa seperti bahasa alien.
Yang bahaya adalah kita sering ngga sadar fondasi mana yang hilang.
Akibatnya kita terus memaksakan diri membaca materi yang lebih tinggi.
- Ngga ngerti.
- Baca lagi.
- Tetap ngga ngerti.
Lalu menyimpulkan:
“Saya terlalu gbl*kkk buat belajar ini.”
Padahal mungkin kita cuma perlu mundur dua chapter.
Mundur Itu Bukan Berarti Gagal
Dulu saya menganggap kalau harus kembali mempelajari sesuatu yang basic berarti kemampuan saya kurang.
Kayak…
“Masa beginian aja harus belajar lagi?”
Tapi sekarang saya justru melihat sebaliknya.
Kalau suatu materi terasa terlalu susah, salah satu pertanyaan pertama yang menurut saya perlu ditanyakan adalah:
“Sebelum belajar ini, sebenarnya saya harus ngerti apa dulu?”
Kadang jawabannya bikin ego agak tersenggol.
Misalnya kita mau belajar topik yang menurut kita sudah advanced banget…
…eh ternyata masalahnya ada di konsep dasar yang seharusnya dipelajari bertahun-tahun lalu.
Ya udah.
Balik.
Pelajari lagi.
Ngga ada ormas yang bakal datang ke rumah gara-gara kita baca materi pemula.
Serius.
Dan anehnya, setelah fondasi tersebut akhirnya nyambung, materi yang sebelumnya terasa mustahil kadang berubah jadi:
Lah… cuma gini?
Anjayyy kata gwejj teh..
Bukan karena materinya mendadak lebih mudah.
Otak kita sekarang cuma punya lebih banyak kait untuk menggantung informasi baru.
Kayak puzzle.
Kalau baru punya tiga keping, melihat gambar utuhnya susah.
Kalau sudah punya lima puluh keping yang tersambung, keping berikutnya jauh lebih gampang ditempatkan.
Kita Sering Membandingkan Chapter 2 dengan Chapter 23 Orang Lain
Ada satu hal lagi yang menurut saya cukup ngeselin.
- Kita jarang melihat seluruh perjalanan seseorang.
- Kita cuma melihat kondisi mereka sekarang.
- Kita lihat programmer yang bisa bikin sesuatu dalam beberapa jam.
- Kita ngga lihat berapa tahun dia pernah kebingungan gara-gara typo.
- Kita lihat orang ngomong teknis dengan lancar.
- Kita ngga lihat berapa ratus kali sebelumnya dia Google pertanyaan yang sekarang menurut dia basic.
- Kita lihat seseorang bisa bikin espresso enak hanya dari melihat aliran kopi.
- Yang kita ngga lihat adalah puluhan shot jelek yang dulu dia buang ke wastafel.
Eh…, kayaknya bukan “satu hal lagi” dehhh wkwkw.
Jadi ketika kita membandingkan proses belajar kita dengan orang lain, sebenarnya sering kali perbandingannya ngga fair.
Kita lagi ada di Part 1.
Dia mungkin udah Part 8.
Ya jelas beda odeng.
Jadi, Apakah Saya Sekarang Pintar?
Wkwkwk.
Ngga juga.
Masih sering baca dokumentasi tiga kali baru ngerti.
Masih sering buka artikel lalu ketemu istilah baru, buka artikel lain, ketemu istilah baru lagi, kemudian lupa sebenarnya artikel pertama tadi ngomongin apa. Bahkan selama 3+ tahun masuk dunia kerja, setiap hari banyak “baru tau”-nya.
Classic.
Tapi sekarang setidaknya saya mulai berhenti menggunakan kata “bodoh” sebagai jawaban default ketika ngga memahami sesuatu.
Kalau mentok, saya mencoba mundur.
- Cari prasyaratan-nya.
- Cari penjelasan yang lebih sederhana.
- Cari sumber lain.
- Praktik.
- Rusakin sesuatu. eh?
- Benerin lagi. ehhh?
- Ulang.
Memang jauh lebih lambat daripada berharap otak tiba-tiba mendapat firmware update semalaman.
Tapi ternyata lebih efektif.
Mungkin memang ada orang yang belajar sesuatu lebih cepat daripada kita.
Ya, itu nyata.
Kemampuan setiap orang juga jelas beda.
Tapi kesulitan memahami sesuatu tidak otomatis berarti kita tidak mampu memahaminya.
Kadang kita cuma melewatkan satu konsep penting beberapa langkah sebelumnya.
Dan ketika bagian itu kosong, semua yang dibangun di atasnya ikut terasa kacaw balaw.
Jadi kalau sekarang ada sesuatu yang bikin kamu berpikir,
Kayaknya otak gwejjj ngga nyampe deh.
Coba jangan langsung menyerah.
Mundur sedikit.
Cek fondasinya.
Siapa tahu sebenarnya otaknya baik-baik saja.
Espresso-nya aja belum dial-in.