CTRL+Z | EP1: 404_tRu5T_n0T_f0uNd
Kamu tidak butuh orang yang hebat kalau akhirnya hanya ingin memelihara rasa tidak amanmu sendiri.
daftar isi

Ada garis yang nyaris tak terlihat antara memastikan kualitas dan membunuh kreativitas. Garis itu tipis sekali, setipis benang yang ditarik terlalu kencang sampai hampir putus. Di atas kertas, semuanya terdengar profesional. Standar tinggi, detail, presisi. Tapi di lapangan, rasanya berbeda.
Awalnya aku pikir kamu hanya perfeksionis. Aku mencoba memahami. Aku menyesuaikan ritme. Aku mengikuti arah. Namun semakin hari, rasanya bukan lagi soal kualitas. Rasanya seperti setiap langkahku harus melewati gerbang kecil yang kamu jaga sendiri. Setiap kalimat yang kutulis harus disaring. Setiap ide yang kubawa harus dipoles ulang sampai tak lagi terdengar seperti suaraku.
Kamu menyebutnya kontrol kualitas. Tapi yang terasa adalah kehilangan kendali atas diriku sendiri.
Micromanagement sering datang dengan wajah rapi. Ia menyamar sebagai kepedulian, sebagai standar profesionalisme. Padahal di balik itu, ada pesan tak terucap bahwa kamu tidak benar-benar percaya. Kamu tidak sedang membangun tim yang kuat. Kamu sedang membentuk versi kecil dari dirimu sendiri. Dan di proses itu, identitasku pelan-pelan terkikis.
Saat Realita Dipelintir di Ruang Rapat
Ada fase yang lebih sunyi dan lebih menyakitkan. Ketika kontrol berubah menjadi sesuatu yang lebih halus, lebih licin.
Instruksi bergeser di tengah jalan. Arah berubah tanpa aba-aba. Tapi ketika hasilnya tak sesuai ekspektasi, kamu berkata aku yang salah menangkap maksud. Seolah memoriku yang keliru, bukan komunikasimu yang berubah. Padahal bukti tertulis masih ada. Pesan-pesan itu tidak menguap.
Namun, kamu tetap menatapku dengan keyakinan penuh, seakan akulah yang tak paham.
Di titik itu, bukan hanya pekerjaanku yang kamu koreksi. Kamu mulai menggoyahkan persepsiku sendiri. Aku jadi bertanya-tanya,
Apa aku memang tidak kompeten?”
“Apa aku yang terlalu sensitif?”
“Apa aku yang salah?
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah komunikasi yang berantakan, lalu tanggung jawabnya dipindahkan secara halus.
Gaslighting tidak selalu meledak. Ia seperti api kecil yang terus ditiup pelan-pelan. Tidak membakar sekaligus, tapi menghanguskan perlahan.
Ketika Semangat Kehilangan Nafas
Lalu kamu bertanya,
Kenapa performamu menurun? Kenapa kamu tidak lagi seantusias dulu saat menyampaikan ide? Kenapa kamu lebih banyak diam?
Bagaimana aku bisa berlari jika setiap langkahku diawasi seperti tersangka? Bagaimana aku bisa terbang jika sayapku selalu ditimbang ulang sebelum sempat mengepak?
Performa bukan sekadar angka di laporan. Ia hidup dari rasa aman. Dari kepercayaan. Dari ruang untuk salah dan belajar. Ketika yang ditanam adalah rasa takut, yang tumbuh bukan inovasi, melainkan kecemasan.
Aku lelah bukan karena beban kerja terlalu berat. Aku lelah karena harus terus siaga. Karena setiap keputusan terasa seperti ranjau. Karena setiap rapat seperti ruang interogasi dengan lampu yang terlalu terang.
Aku datang untuk berkarya dan berkolaborasi. Bukan untuk dibentuk menjadi robot yang hanya menunggu instruksi. Kreativitas itu liar. Ia butuh ruang, bukan tali kekang.
Kalau kamu benar-benar menginginkan kualitas, mungkin yang perlu kamu lepaskan bukan standarmu, melainkan ketakutanmu untuk percaya.
Karena ketika kepercayaan mati, yang ikut terkubur bukan hanya ide.
Tapi juga semangat.
Catatan untuk Diriku Sendiri
Untuk aku yang membaca ini diam-diam, tarik napas.
Tidak semua hal harus kamu menangkan hari ini. Tidak semua luka harus langsung kamu balas dengan pembuktian. Kadang bertahan juga bentuk keberanian.
Ingat, kamu tidak sebodoh yang mereka coba buat kamu percaya. Kamu tidak selemah yang kamu rasakan di hari-hari paling sunyi. Kamu hanya lelah.
Bersabarlah, tapi jangan mati rasa.
Tenanglah, tapi jangan padam.
Kalau hari ini terasa seperti berjalan di atas kaca, pelan saja. Tidak apa-apa melambat. Tidak apa-apa menyimpan energi untuk dirimu sendiri.
Suatu hari nanti, kamu akan berada di ruang yang tidak membuatmu mengecil. Ruang yang tidak menuntutmu jadi versi paling sempurna. Ruang yang membiarkanmu utuh.
Sampai saat itu tiba, jaga dirimu baik-baik.
Tetap waras.
Tetap hangat.
Tetap percaya bahwa kamu pantas dipercaya.
Terima kasih sudah membaca. Bukan berdasarkan kisah nyata penulis. ✌️